Blog Archive

Friday, 26 August 2022

5 Alasan Mengapa AhyaBee Menulis Fiksi, Poin Terakhir Membuatmu Tak Habis Pikir!

Hai helo, Sobat Ahya!

Senang sekali aku bisa menulis lagi setelah berupaya sekuat tenaga bisa bangun dan membunuh rasa mager yang merajalela, menguasai jiwa raga. Uhh! Alasan saja ... hiks.

Kali ini aku akan bercerita 5 alasan mengapa AhyaBee memutuskan menulis fiksi. Tentu saja karena aku tak bisa menulis nonfiksi // plaaakkk!

Sebelum akhirnya aku bisa menuliskan buku fiksi pertamaku. Curhatan perjalanan menulis buku pertama AhyaBee. Aku sempat memikirkan hal lain, tujuanku menulis itu apa?


pixabay.com


Aku nggak akan membahas definisi menulis menurut para ahli. Namun, bagiku, menulis sesuatu yang penting. Sebuah proses menciptakan karya melalui tulisan, proses berkesinambungan yang tak akan selesai dalam satu dua hari. Menulis salah satu media belajar bagiku. Dengan menulis aku bisa mengingat detail penting dan aku bisa membaca kembali saat membutuhkannya.

Aku sadar benar dengan tipe kepribadian diriku yang mudah sekali terbawa arus, mudah lupa, dan mudah banget bosan dengan sesuatu. Adanya tujuan saat menulis menjadi pondasi yang kuat. Saat aku akan berhenti dan menyerah, aku akan mencoba mengingatnya, 5 alasan mengapa AhyaBee menulis fiksi.

      1. Transfer Informasi

Kepalaku selalu dipenuhi dengan ide-ide abstrak, informasi-informasi. Kadang hal ini membuat repot karena kepala menjadi sangat penuh. Sedangkan bisa jadi di luar sana ada orang yang membutuhkan informasi yang kumiliki. Bahkan saat kita mungkin menganggap hal itu nggak penting-penting banget adalah informasi yang sangat berharga buat mereka.

Jangan ragu menulis yang kita tahu, karena hal itu akan memberi informasi kepada pembaca. Bahkan sekali pun yang kita tulis jenis fiksi, tetap ada informasi di dalamnya. Untuk beberapa orang yang kurang nyaman bertanya, hasil tulisanmu bisa jadi jawaban yang dia cari.

       2. Mengedukasi Diri dan Pembaca

Pernah berfikir bahwa tulisan fiksimu bermanfaat bagi orang lain? Aku sendiri orang yang jarang berkumpul di tempat ramai apalagi sampai mengedukasi di depan umum. Kemampuan public speaking yang kukuasai kurang baik, terlebih lagi peluang berbicara di depan umum tidak ada. Aku bukan pemuka di lingkungan hal ini menutup kemungkinan aku berceloteh mengedukasi.

Beruntungnya, sekarang apa-apa dipermudah. Teknologi membuatku masih bisa mengedukasi banyak orang dengan tulisan. Rasanya luar biasa, walau yang kubagi bukan hal yang besar. Dengan menulis, aku tak hanya mengedukasi pembaca, tetapi diriku sendiri. Contoh kecilnya, saat kita menulis, kita harus riset. Hasil riset itu kadang memberi insight baru. Luar biasa bukan?

       3. Media Mengekspresikan Diri

Banyak cara mengekspresikan diri, menulis fiksi salah satunya. Aku termasuk salah satu yang memanfaatkan tulisan untuk mengekspresikan diri. Aku menulis fiksi seperti puisi, cerpen, dan novel. Aku merasa nyaman dan menjadi diri sendiri saat menulis. Sebagai introvert yang paling introvert, aku sangat menikmati menulis. Aku bisa mengembangkan komunitas bersama teman-teman satu frekuensi yang sulit kudapatkan di dunia nyata.

Tulisan menjadi penghubung aku dan teman-teman dari seluruh Indonesia. Kami berinteraksi dengan tulisan, mendiskusikan tulisan, dan melakukan kegiatan menyenangkan bersama-sama semua terhubung benang merah berupa tulisan. Saat menulis aku merasa bebas berekspresi kadang aku bahkan menjadikan tulisan sebagai refleksi diri tanpa takut dihakimi siapa pun dengan aling-aling; ini hanya cerita fiksi padahal ada sempilan dari diriku di sana.

       4. Menulis untuk Menyembuhkan

Beberapa orang menjadikan menulis sebagai media penyembuhan. Nggak percaya? Coba baca ini. Nah, karena ini blog aku pakai sebagai media curhat. Akan kubisikkan rahasia kecil. Aku merasa kesepian di beberapa situasi. Aku tak perlu menjelaskan bagaimana konteks kesepian yang aku alami. Aku hanya akan memberitahu, aku merasakan kehampaan untuk waktu yang lama. Kadang sekalinya aku bisa merasakan adanya emosi, luapan itu sangat mengganggu karena frekuensinya yang sering dan tak bisa diprediksi.

Seseorang memintaku menulis apa aja, aku pun mengikuti saran beliau dan sekarang aku merasa sangat baik. Aku merasa sangat ringan dan lebih baik dari sebelumnya.

Nggak usah malu saat tujuan menulismu adalah menyembuhkan diri karena aku pun demikian. Kamu bisa memulai dari yang mudah dan ringan. Bisa menulis isi hati atau apa pun.

       5. Menulis untuk Menghasilkan Uang

Poin ini paling nggak ingin aku bahas sebenarnya. Sayangnya poin ini justru paling banyak memotivasi dan paling relate. Banyak yang menempatkan poin ini di urutan teratas. Mengapa aku meletakkan di bagian terakhir, belakangan muncul penulis baru dengan motivasi meraup cuan menurutku cukup meresahkan. Saat baca karyanya agak menyedihkan mereka tidak mempelajari ilmu tulis menulis.

Sebenarnya nggak salah menjadikan ladang mencari uang aku pun menulis untuk itu. Namun, pesanku, di mana pun kita menulis, jangan pernah melupakan EYD dan KBBI. 

Tujuan menulis ini seharusnya menjadi rahasiaku saja, tetapi aku ingin membaginya denganmu 5 alasan mengapa AhyaBee menulis fiksi. Transparan sudah, iya, kan? Bagaimana menurutmu, apa membaca artikel ini buang-buang waktu? Ahya mau tahu dong, sobat Ahya sudah mantap dengan tujuan menulisnya? Kalau belum, yuk, mantapkan!


Sampai jumpa di postingan selanjutnya, ya!

Terima kasih sudah berkunjung.

Jangan takut patah saat bertumbuh~

AhyaBee

Sunday, 21 August 2022

7 Tip Jitu Menulis Buku Pertamaku, Jangan Ragu Mulai Aja Dulu!

7 Tip Jitu Menulis Buku Pertamaku, Jangan Ragu Mulai Aja Dulu!

Halo, Sobat Ahya~

Pernah kepikiran nggak kalau kamu di masa mendatang adalah sosok penulis sekelas Andrea Hirata yang selalu dinanti setiap karya-karyanya? Atau berkesempatan mendapat momen emas agar bisa seeksis J.K. Rowling yang karyanya mendunia? Aku pribadi mau banget punya karya bertebaran kayak Colleen Hoover, aamiin yang kenceng.

Sebelum meroket, tentu saja kita harus memulai. Buku pertama nggak akan tiba-tiba ada bila kita tidak menciptakannya. Nah, kadang, nih. Namanya memulai itu berat banget! Kadang nggak tahu harus gimana, apa dulu yang mesti dipersiapin, kapan kita harus melakukannya. Untuk itu, aku mau berbagi pengalaman saat aku menerbitkan buku pertama. Buku pertama yang aku terbitkan ini berupa fiksi kontemporer, yaitu novel.

Sama seperti kebanyakan pemula, aku pun pernah ada di fase kebingungan menulis buku pertama. Namun, aku sama sekali nggak menyerah karena menjadi novelis adalah impianku sejak lama, aku pun berusaha meujudkan impian itu dengan menerbitkan buku pertamaku, Fouttes. Aku akan membagikan tujuh tip jitu menulis novel pertamaku, pokoknya jangan ragu, mulai aja dulu. Buang jauh-jauh semua ketakutan, apa pun bentuknya.

Berikut adalah 7 tip jitu menulis buku pertamaku yang bisa kamu coba.

         1. Tekad dan Niat yang Kuat 

Sebenarnya nggak cuma menulis yang membutuhkan niat dan tekad yang kuat. Setiap kita memulai sesuatu, udah wajib banget buat kita memantapkan hati atas keputusan apa yang kita ambil. Memikirkan baik-baik dampak positif dan negatifnya terhadap kita. Hal itu akan meminimalisir yang namanya penyesalan. Niat yang kuat akan menjauhkan kita dari hal-hal yang tak diinginkan kayak malas melanjutkan projek menulis, malas riset, malas karena merasa mengerjakan nggak maksimal.

Saat menulis buku pertamaku, aku juga mengumpulkan niat dengan susah payah sampai akhirnya Fouettes berwujud dalam sebuah buku yang bisa dipeluk. Apalagi aku merasa sibuk dengan dunia nyata dan kerempongannya, membentuk niat yang kuat semacam membentuk komitmen. Dengan berkomitmen, mau nggak mau aku akan semakin termotivasi menyelesaikan naskah novel solo perdanaku!


cover buku pertamaku,
art by JayVavian

       2. Membuat Konsep Cerita

Setelah niat yang kuat, kamu belum bisa menulis buku pertama tanpa konsep cerita. Konsep cerita adalah satu kesatuan bagaimana cara kita menyampaikan isi cerita kepada pembaca. Banyak banget yang perlu diperhatikan dalam pembuatan konsep cerita yang menarik. Cerita yang menarik memiliki unsur pondasi kokoh berupa unsur intrinstik yang kuat: ide cerita unik, karakteristik tokoh yang simpatik, latar kejadian, benang merah yang saling terkait dsb.

Aku akan menceritakan bagaimana proses kreatif Fouettes, di antaranya saat menggali ide.

Saat itu aku ingin membuat tulisan untuk target pembaca adalah remaja akhir sampai dewasa awal, maka aku memutuskan membuat cerita bergenre Young Adult. Kebetulan aku tipe yang Character driven, aku pun membuat desain karakter dulu, terciptalah Aily, gadis SMA. Melalui Aily aku akan menyampaikan amanat yang ingin aku sampaikan kepada pembaca.

Setelah aku yakin akan menyampaikan amanat-amanat cerita, aku mulai memikirkan masalah utama yang akan dihadapi Aily di masa-masa remaja. Aku menyelipkan masalah terkait persahabatan, keluarga, bahkan cinta monyet yang kadang muncul pada gadis-gadis seusia Aily.

Aku membuat konsep cerita yang mengisahkan Aily seorang gadis SMA yang memiliki berbagai masalah, aku pun menciptakan sosok Aily yang jauh dari kesempurnaan. Secara alami dia tokoh yang menarik perhatian karakter lain tanpa perlu usaha keras, tetapi aku memberi Aily kekurangan agar dia terasa nyata. Ide dasar sudah diperoleh apa kita bisa memulai menulis naskah pertama? Tentu saja, Tidak!

Konsep harus dibuat matang, ide perlu digodog! Untuk mempertajam dan memfokuskan cerita, ide harus dipadatkan menjadi premis, dikembangkan lagi menjadi sinopsis, dan dibatasi dengan outline.

Fouettes memiliki premis:
Aily harus mengikuti Can Dance Competition demi pembuktian kepada Mamanya, tetapi ketika semua nyaris berjalan lancar, kecelakaan merenggut pendengarannya.

Dari premis itu sudah terlihat masalah tokoh utama, halangannya, dan (seharusnya ada resolusinya, tapi aku nggak bisa spoiler). Masih banyak hal yang harus diperhatikan saat membuat konsep cerita sebelum menulis buku pertama antara lain, pemilihan sudut pandang, gaya bahasa yang disesuaikan dengan target pembaca, dan masih banyak lagi. Semoga nanti aku berkesempatan membahas satu per satu dengan lebih dalam lagi.  

      3. Menulis dengan Konsisten

Inilah tantangan selanjutnya ketika konsep yang kamu buat untuk buku pertama sudah siap dengan matang, menulis dengan konsisten. Menulis adalah kegiatan yang tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat. Menulis kegiatan berkesinambungan yang tidak akan berjalan dengan baik tanpa komitmen dan konsisten. Tidak ada trik khusus, kamu hanya perlu berlatih secara bertahap.

Saat menulis Fouettes sendiri aku menulis minimal 1k kata sehari setiap hari sehingga tamat tepat waktu sesuai dengan rencana. Kamu bisa melatih kemampuan menulis secara bertahap sesuai kemampuan misalkan bisa 300 kata per hari yang dilakukan setiap hari jauh lebih baik daripada menulis 7k sehari, tetapi berhenti berhari-hari. Jadi, jangan lupa cek terus perkembangan latihan kamu agar bisa cepat menamatkan bakal buku pertamamu.

      4. Membagikan Tulisan

Kamu bisa memikirkan poin ini saat membuat konsep ataupun setelah naskah selesai, opsional saja. Pada poin ini, kamu bisa juga men-skip bagian ini. Kalau aku pribadi lebih memilih opsi membagikannya ke suatu platform menulis gratis kayak wattpad. Tujuannya, selagi kita menunggu naskah selesai, kita akan mendapat feedback secara langsung dari pembaca.

Feedback ini penting banget, loh, karena dari tanggapan pembaca, penerbit akan tertarik. Penerbit bisa mempertimbangkan apakah naskahmu berpotensi menarik pembaca atau tidak.

Saat Fouettes kutulis, draf awal aku unggah ke wattpad. Setelah selesai, draf kedua aku unggah kembali untuk menjaring lebih banyak pembaca dan memperkenalkan karya kita. Banyak banget aplikasi tempat kita memperkenalkan karya kita, Wattpad, Cabaca, Kbm, Storial, Joylada, Karyakarsa dll.

       5. Mengendapkan Naskah

Eh, ada pengendapan naskah segala ... ya, memang begitulah adanya. Kita perlu mengendapkan naskah minimal banget tiga mingguan. Memangnya kenapa harus diendapin, kan, bisa langsung revisi saat lagi semangat-semangatnya? Tidak!!!

Akan banyak manfaat saat kita mengendapkan naskah, selama masa pengendapan kita bisa pakai buat melemaskan pikiran dengan melakukan apa yang disuka. Kita bisa menonton drakor favorit, baca buku buat self reward, atau jalan ke mana gitu asal jangan dulu mikir naskah yang sedang diendapin itu. Tujuannya saat kita membukanya nanti, kita sudah punya insight baru dengan tulisan kita.

Fouettes sendiri kuendapin sekitar sebulan sebelum masuk ke meja editor, selama masa pengendapan aku ikut berbagai jenis kelas menulis untuk meng-upgrade diri.

       6. Revisi dan Swasunting

Revisi mandiri adalah proses paling krusial dan biasanya akan sangat ... hm, susah sekali diungkapkan dengan kata-kata. Proses ini membutuhkan kejelian, ketelitian, kesabaran, dan pengetahuan. Yups, di sinilah kemampuan menulis kita dipertanyakan. Saat revisi penulis dipaksa menajamkan seluruh panca indera untuk meraba, merasakan di mana letak kekurangan naskah dan berupaya memperbaikinya.

Revisi sendiri secara garis besar ada revisi makro yaitu revisi bagian krusial terkait isi cerita, unsur kelengkapan cerita, mendeteksi plothole dll. Setelah revisi substansi dilewati, akan ada revisi struktural/editing mekanik di mana kita harus memperhatikan pola kalimat, sintaksis, tanda baca, konjungsi dll. Terakhir copy editing sampai zero mistake.

Aku menyelesaikan naskah Fouettes dua minggu lamanya masa swasunting ini, sebelum akhirnya masuk tahap editing bersama editor kesayangan bernama Kak Andi Arny Purnama Sari.

       7. Mengirimkan ke Penerbit

Naskah sudah cukup rapi, mari kita kirim ke penerbit dan tunggu hasilnya. Banyak cara menerbitkan buku pertama, kita bisa mengikuti seleksi terbit gratis. Kurasa hampir semua penerbit baik indie ataupun mayor punya fasilitas terbit gratis baik tanpa syarat ataupun terbit gratis bersyarat. Biasanya untuk sistem ini kita akan mendapat fasilitas penuh dari penerbit dari cover, layout, editing dll.

Selain itu ada yang namanya terbit indie, ini kita bayar ke penerbit. Kita bisa pilih jenis paketan yang ditawarkan. Bisa juga dengan self publish atau SP.

Ragu adalah ketidakjelasan, saat kita ragu peluang pun akan tertutup sehingga kemungkinan besar kita akan memulai semakin berkurang. Jadi, untuk mengurangi keraguan tanamkan niat untuk memulai membuat tulisan agar terbentuk konsep cerita untuk buku pertama kita. Tentu saja niat itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa menulis dengan konsisten. Setelah menuliskannya, kamu jangan ragu membagikan ke publik agar dapat feedback dari pembaca. Jangan lupa promosi agar buku pertama kita semakin dikenal banyak orang. Selamat mencoba 7 tip jitu menulis buku pertama, jangan ragu, coba aja dulu!

Sampai jumpa di postingan selanjutnya~
AhyaBee.

Saturday, 20 August 2022

Halo, aku AhyaBee!

 Hai, sobat Ahya!

Assalamualaikum. Kenalkan aku AhyaBee~

Bismillahirahmanirrohim, aku akan memakai media ini untuk menuliskan apa yang ada dalam pikiran, aku alami, dan/atau yang aku inginkan. Singkatnya, blog ini akan menjadi tempat curhat. Namun, sebelum itu ... aku akan memperkenalkan diri dulu. Aku AhyaBee, seorang yang mengekspresikan diri melalui tulis menulis. Teman-teman memanggilku Ahya, Bee, AhyaBee, atau Kak Kus 😣 Yups, Kak Kus!

Bukan nama lain dari septic tank or kakus 😏 gara-gara ini aku nggak bisa sembunyiin identitas asliku wkwkwk.

Aku memiliki nama lahir Kusmirah, sejauh ini belum pernah berubah. Lahir dan besar di kota Purbalingga Perwira, 22 Juli puluhan tahun silam. Sampai sekarang masih ada di sana, di pinggiran Purbalingga bernama desa Tunjungmuli, kecamatan Karangmoncol. Aku ingin menjadi penulis yang bisa membagikan kebaikan dalam setiap karya. Sejak tahun 2019, awal aku meniti karier kepenulisan, aku sudah mengabadikan karyaku di antaranya:

A. Buku Solo

CETAK

1. Fouettes, KMC Publisher, November 2020.

2. Obsessive Girl, Benito Publisher, Maret 2022.

3. Song of Death, Batik Publisher Soon Pre Order, September 2022.

Platform Daring

1. The Stranger I Met in Bali, Januari 2022.

Cerita ini tayang di cabaca.id 

Baca cerita, klik di sini 

2. Reading Love, [Bukan] Gila Buku!, Oktober 2021 (BC: Grassmedia Group)

Cerita ini tayang stary: Dreame, Innovel, dan Ringdom.

Baca cerita, klik di sini 

3. Forget Me Not, Februari 2022.

Tayang di Fizzo.id

Baca cerita, klik di sini



B. Antologi

1. Antologi Metafora Kehilangan

Merupakan antologi bersama berisi puisi-puisi member The World of Authorhip. Satu-satunya puisi yang menyempil di buku itu berjudul Kilatan Kenangan, puisi yang kubuat 15 Desember 2019.

2. Antologi Cerpen Meraih Harapan

Merupakan antologi bersama berupa cerpen. Cerpen yang kutulis di sini bergenre teenfic berjudul Imaji.

3. Antologi Ambisi

Merupakan antologi bersama teman-teman TWOA, aku mengirimkan cerpen Kaktus genre teenfic yang terinspirasi dari kisah nyata saat aku masih SMP.

Demi memperkuat branding-nya sebagai penulis, dia mengikuti berbagai kelas menulis untuk memperbaharui kemampuan. Next, akan kuceritakan!

Sejak bulan April 2022, aku memutuskan untuk memakai logo Peacok/ Merak sebagai simbol identitas. Tentang alasan memilih burung merak sebagai branding nama AhyaBee, akan kuceritakan nanti, ya~

Semangat bertumbuh,

AhyaBee~

Unggulan

Mengurai Kisah Inspiratif: Menembus Portal Maple Universe Melalui Maple Media

1. Menembus Portal Maple Universe Mundus est plenus magicis et prodigiis, s atu kalimat ini menggambarkan Maple Universe sebagai dunia yang ...

Populer