Blog Archive

Sunday, 21 August 2022

7 Tip Jitu Menulis Buku Pertamaku, Jangan Ragu Mulai Aja Dulu!

7 Tip Jitu Menulis Buku Pertamaku, Jangan Ragu Mulai Aja Dulu!

Halo, Sobat Ahya~

Pernah kepikiran nggak kalau kamu di masa mendatang adalah sosok penulis sekelas Andrea Hirata yang selalu dinanti setiap karya-karyanya? Atau berkesempatan mendapat momen emas agar bisa seeksis J.K. Rowling yang karyanya mendunia? Aku pribadi mau banget punya karya bertebaran kayak Colleen Hoover, aamiin yang kenceng.

Sebelum meroket, tentu saja kita harus memulai. Buku pertama nggak akan tiba-tiba ada bila kita tidak menciptakannya. Nah, kadang, nih. Namanya memulai itu berat banget! Kadang nggak tahu harus gimana, apa dulu yang mesti dipersiapin, kapan kita harus melakukannya. Untuk itu, aku mau berbagi pengalaman saat aku menerbitkan buku pertama. Buku pertama yang aku terbitkan ini berupa fiksi kontemporer, yaitu novel.

Sama seperti kebanyakan pemula, aku pun pernah ada di fase kebingungan menulis buku pertama. Namun, aku sama sekali nggak menyerah karena menjadi novelis adalah impianku sejak lama, aku pun berusaha meujudkan impian itu dengan menerbitkan buku pertamaku, Fouttes. Aku akan membagikan tujuh tip jitu menulis novel pertamaku, pokoknya jangan ragu, mulai aja dulu. Buang jauh-jauh semua ketakutan, apa pun bentuknya.

Berikut adalah 7 tip jitu menulis buku pertamaku yang bisa kamu coba.

         1. Tekad dan Niat yang Kuat 

Sebenarnya nggak cuma menulis yang membutuhkan niat dan tekad yang kuat. Setiap kita memulai sesuatu, udah wajib banget buat kita memantapkan hati atas keputusan apa yang kita ambil. Memikirkan baik-baik dampak positif dan negatifnya terhadap kita. Hal itu akan meminimalisir yang namanya penyesalan. Niat yang kuat akan menjauhkan kita dari hal-hal yang tak diinginkan kayak malas melanjutkan projek menulis, malas riset, malas karena merasa mengerjakan nggak maksimal.

Saat menulis buku pertamaku, aku juga mengumpulkan niat dengan susah payah sampai akhirnya Fouettes berwujud dalam sebuah buku yang bisa dipeluk. Apalagi aku merasa sibuk dengan dunia nyata dan kerempongannya, membentuk niat yang kuat semacam membentuk komitmen. Dengan berkomitmen, mau nggak mau aku akan semakin termotivasi menyelesaikan naskah novel solo perdanaku!


cover buku pertamaku,
art by JayVavian

       2. Membuat Konsep Cerita

Setelah niat yang kuat, kamu belum bisa menulis buku pertama tanpa konsep cerita. Konsep cerita adalah satu kesatuan bagaimana cara kita menyampaikan isi cerita kepada pembaca. Banyak banget yang perlu diperhatikan dalam pembuatan konsep cerita yang menarik. Cerita yang menarik memiliki unsur pondasi kokoh berupa unsur intrinstik yang kuat: ide cerita unik, karakteristik tokoh yang simpatik, latar kejadian, benang merah yang saling terkait dsb.

Aku akan menceritakan bagaimana proses kreatif Fouettes, di antaranya saat menggali ide.

Saat itu aku ingin membuat tulisan untuk target pembaca adalah remaja akhir sampai dewasa awal, maka aku memutuskan membuat cerita bergenre Young Adult. Kebetulan aku tipe yang Character driven, aku pun membuat desain karakter dulu, terciptalah Aily, gadis SMA. Melalui Aily aku akan menyampaikan amanat yang ingin aku sampaikan kepada pembaca.

Setelah aku yakin akan menyampaikan amanat-amanat cerita, aku mulai memikirkan masalah utama yang akan dihadapi Aily di masa-masa remaja. Aku menyelipkan masalah terkait persahabatan, keluarga, bahkan cinta monyet yang kadang muncul pada gadis-gadis seusia Aily.

Aku membuat konsep cerita yang mengisahkan Aily seorang gadis SMA yang memiliki berbagai masalah, aku pun menciptakan sosok Aily yang jauh dari kesempurnaan. Secara alami dia tokoh yang menarik perhatian karakter lain tanpa perlu usaha keras, tetapi aku memberi Aily kekurangan agar dia terasa nyata. Ide dasar sudah diperoleh apa kita bisa memulai menulis naskah pertama? Tentu saja, Tidak!

Konsep harus dibuat matang, ide perlu digodog! Untuk mempertajam dan memfokuskan cerita, ide harus dipadatkan menjadi premis, dikembangkan lagi menjadi sinopsis, dan dibatasi dengan outline.

Fouettes memiliki premis:
Aily harus mengikuti Can Dance Competition demi pembuktian kepada Mamanya, tetapi ketika semua nyaris berjalan lancar, kecelakaan merenggut pendengarannya.

Dari premis itu sudah terlihat masalah tokoh utama, halangannya, dan (seharusnya ada resolusinya, tapi aku nggak bisa spoiler). Masih banyak hal yang harus diperhatikan saat membuat konsep cerita sebelum menulis buku pertama antara lain, pemilihan sudut pandang, gaya bahasa yang disesuaikan dengan target pembaca, dan masih banyak lagi. Semoga nanti aku berkesempatan membahas satu per satu dengan lebih dalam lagi.  

      3. Menulis dengan Konsisten

Inilah tantangan selanjutnya ketika konsep yang kamu buat untuk buku pertama sudah siap dengan matang, menulis dengan konsisten. Menulis adalah kegiatan yang tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat. Menulis kegiatan berkesinambungan yang tidak akan berjalan dengan baik tanpa komitmen dan konsisten. Tidak ada trik khusus, kamu hanya perlu berlatih secara bertahap.

Saat menulis Fouettes sendiri aku menulis minimal 1k kata sehari setiap hari sehingga tamat tepat waktu sesuai dengan rencana. Kamu bisa melatih kemampuan menulis secara bertahap sesuai kemampuan misalkan bisa 300 kata per hari yang dilakukan setiap hari jauh lebih baik daripada menulis 7k sehari, tetapi berhenti berhari-hari. Jadi, jangan lupa cek terus perkembangan latihan kamu agar bisa cepat menamatkan bakal buku pertamamu.

      4. Membagikan Tulisan

Kamu bisa memikirkan poin ini saat membuat konsep ataupun setelah naskah selesai, opsional saja. Pada poin ini, kamu bisa juga men-skip bagian ini. Kalau aku pribadi lebih memilih opsi membagikannya ke suatu platform menulis gratis kayak wattpad. Tujuannya, selagi kita menunggu naskah selesai, kita akan mendapat feedback secara langsung dari pembaca.

Feedback ini penting banget, loh, karena dari tanggapan pembaca, penerbit akan tertarik. Penerbit bisa mempertimbangkan apakah naskahmu berpotensi menarik pembaca atau tidak.

Saat Fouettes kutulis, draf awal aku unggah ke wattpad. Setelah selesai, draf kedua aku unggah kembali untuk menjaring lebih banyak pembaca dan memperkenalkan karya kita. Banyak banget aplikasi tempat kita memperkenalkan karya kita, Wattpad, Cabaca, Kbm, Storial, Joylada, Karyakarsa dll.

       5. Mengendapkan Naskah

Eh, ada pengendapan naskah segala ... ya, memang begitulah adanya. Kita perlu mengendapkan naskah minimal banget tiga mingguan. Memangnya kenapa harus diendapin, kan, bisa langsung revisi saat lagi semangat-semangatnya? Tidak!!!

Akan banyak manfaat saat kita mengendapkan naskah, selama masa pengendapan kita bisa pakai buat melemaskan pikiran dengan melakukan apa yang disuka. Kita bisa menonton drakor favorit, baca buku buat self reward, atau jalan ke mana gitu asal jangan dulu mikir naskah yang sedang diendapin itu. Tujuannya saat kita membukanya nanti, kita sudah punya insight baru dengan tulisan kita.

Fouettes sendiri kuendapin sekitar sebulan sebelum masuk ke meja editor, selama masa pengendapan aku ikut berbagai jenis kelas menulis untuk meng-upgrade diri.

       6. Revisi dan Swasunting

Revisi mandiri adalah proses paling krusial dan biasanya akan sangat ... hm, susah sekali diungkapkan dengan kata-kata. Proses ini membutuhkan kejelian, ketelitian, kesabaran, dan pengetahuan. Yups, di sinilah kemampuan menulis kita dipertanyakan. Saat revisi penulis dipaksa menajamkan seluruh panca indera untuk meraba, merasakan di mana letak kekurangan naskah dan berupaya memperbaikinya.

Revisi sendiri secara garis besar ada revisi makro yaitu revisi bagian krusial terkait isi cerita, unsur kelengkapan cerita, mendeteksi plothole dll. Setelah revisi substansi dilewati, akan ada revisi struktural/editing mekanik di mana kita harus memperhatikan pola kalimat, sintaksis, tanda baca, konjungsi dll. Terakhir copy editing sampai zero mistake.

Aku menyelesaikan naskah Fouettes dua minggu lamanya masa swasunting ini, sebelum akhirnya masuk tahap editing bersama editor kesayangan bernama Kak Andi Arny Purnama Sari.

       7. Mengirimkan ke Penerbit

Naskah sudah cukup rapi, mari kita kirim ke penerbit dan tunggu hasilnya. Banyak cara menerbitkan buku pertama, kita bisa mengikuti seleksi terbit gratis. Kurasa hampir semua penerbit baik indie ataupun mayor punya fasilitas terbit gratis baik tanpa syarat ataupun terbit gratis bersyarat. Biasanya untuk sistem ini kita akan mendapat fasilitas penuh dari penerbit dari cover, layout, editing dll.

Selain itu ada yang namanya terbit indie, ini kita bayar ke penerbit. Kita bisa pilih jenis paketan yang ditawarkan. Bisa juga dengan self publish atau SP.

Ragu adalah ketidakjelasan, saat kita ragu peluang pun akan tertutup sehingga kemungkinan besar kita akan memulai semakin berkurang. Jadi, untuk mengurangi keraguan tanamkan niat untuk memulai membuat tulisan agar terbentuk konsep cerita untuk buku pertama kita. Tentu saja niat itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa menulis dengan konsisten. Setelah menuliskannya, kamu jangan ragu membagikan ke publik agar dapat feedback dari pembaca. Jangan lupa promosi agar buku pertama kita semakin dikenal banyak orang. Selamat mencoba 7 tip jitu menulis buku pertama, jangan ragu, coba aja dulu!

Sampai jumpa di postingan selanjutnya~
AhyaBee.

No comments:

Post a Comment

Unggulan

Mengurai Kisah Inspiratif: Menembus Portal Maple Universe Melalui Maple Media

1. Menembus Portal Maple Universe Mundus est plenus magicis et prodigiis, s atu kalimat ini menggambarkan Maple Universe sebagai dunia yang ...

Populer