7 Tip Jitu Menulis Buku Pertamaku, Jangan Ragu Mulai Aja Dulu!
Halo, Sobat Ahya~
Pernah kepikiran nggak kalau kamu di masa mendatang adalah sosok penulis sekelas Andrea Hirata yang selalu dinanti setiap karya-karyanya? Atau berkesempatan mendapat momen emas agar bisa seeksis J.K. Rowling yang karyanya mendunia? Aku pribadi mau banget punya karya bertebaran kayak Colleen Hoover, aamiin yang kenceng.
Sebelum meroket, tentu saja kita harus memulai. Buku pertama nggak akan tiba-tiba ada bila kita tidak menciptakannya. Nah, kadang, nih. Namanya memulai itu berat banget! Kadang nggak tahu harus gimana, apa dulu yang mesti dipersiapin, kapan kita harus melakukannya. Untuk itu, aku mau berbagi pengalaman saat aku menerbitkan buku pertama. Buku pertama yang aku terbitkan ini berupa fiksi kontemporer, yaitu novel.
Sama seperti kebanyakan pemula, aku pun pernah ada di fase kebingungan menulis buku pertama. Namun, aku sama sekali nggak menyerah karena menjadi novelis adalah impianku sejak lama, aku pun berusaha meujudkan impian itu dengan menerbitkan buku pertamaku, Fouttes. Aku akan membagikan tujuh tip jitu menulis novel pertamaku, pokoknya jangan ragu, mulai aja dulu. Buang jauh-jauh semua ketakutan, apa pun bentuknya.
Berikut adalah 7 tip jitu menulis buku pertamaku yang bisa kamu coba.
1. Tekad dan Niat yang Kuat
Sebenarnya nggak cuma menulis yang membutuhkan niat dan tekad yang kuat. Setiap kita memulai sesuatu, udah wajib banget buat kita memantapkan hati atas keputusan apa yang kita ambil. Memikirkan baik-baik dampak positif dan negatifnya terhadap kita. Hal itu akan meminimalisir yang namanya penyesalan. Niat yang kuat akan menjauhkan kita dari hal-hal yang tak diinginkan kayak malas melanjutkan projek menulis, malas riset, malas karena merasa mengerjakan nggak maksimal.Aily harus mengikuti Can Dance Competition demi pembuktian kepada Mamanya, tetapi ketika semua nyaris berjalan lancar, kecelakaan merenggut pendengarannya.
Dari premis itu sudah terlihat masalah tokoh utama, halangannya, dan (seharusnya ada resolusinya, tapi aku nggak bisa spoiler). Masih banyak hal yang harus diperhatikan saat membuat konsep cerita sebelum menulis buku pertama antara lain, pemilihan sudut pandang, gaya bahasa yang disesuaikan dengan target pembaca, dan masih banyak lagi. Semoga nanti aku berkesempatan membahas satu per satu dengan lebih dalam lagi.
3. Menulis dengan Konsisten
Inilah tantangan selanjutnya ketika konsep yang kamu buat untuk buku pertama sudah siap dengan matang, menulis dengan konsisten. Menulis adalah kegiatan yang tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat. Menulis kegiatan berkesinambungan yang tidak akan berjalan dengan baik tanpa komitmen dan konsisten. Tidak ada trik khusus, kamu hanya perlu berlatih secara bertahap.
Saat menulis Fouettes sendiri aku menulis minimal 1k kata sehari setiap hari sehingga tamat tepat waktu sesuai dengan rencana. Kamu bisa melatih kemampuan menulis secara bertahap sesuai kemampuan misalkan bisa 300 kata per hari yang dilakukan setiap hari jauh lebih baik daripada menulis 7k sehari, tetapi berhenti berhari-hari. Jadi, jangan lupa cek terus perkembangan latihan kamu agar bisa cepat menamatkan bakal buku pertamamu.
4. Membagikan Tulisan
Kamu bisa memikirkan poin ini saat membuat konsep ataupun setelah naskah selesai, opsional saja. Pada poin ini, kamu bisa juga men-skip bagian ini. Kalau aku pribadi lebih memilih opsi membagikannya ke suatu platform menulis gratis kayak wattpad. Tujuannya, selagi kita menunggu naskah selesai, kita akan mendapat feedback secara langsung dari pembaca.
Feedback ini penting banget, loh, karena dari tanggapan pembaca, penerbit akan tertarik. Penerbit bisa mempertimbangkan apakah naskahmu berpotensi menarik pembaca atau tidak.
Saat Fouettes kutulis, draf awal aku unggah ke wattpad. Setelah selesai, draf kedua aku unggah kembali untuk menjaring lebih banyak pembaca dan memperkenalkan karya kita. Banyak banget aplikasi tempat kita memperkenalkan karya kita, Wattpad, Cabaca, Kbm, Storial, Joylada, Karyakarsa dll.
5. Mengendapkan Naskah
Eh, ada pengendapan naskah segala ... ya, memang begitulah adanya. Kita perlu mengendapkan naskah minimal banget tiga mingguan. Memangnya kenapa harus diendapin, kan, bisa langsung revisi saat lagi semangat-semangatnya? Tidak!!!
Akan banyak manfaat saat kita mengendapkan naskah, selama masa pengendapan kita bisa pakai buat melemaskan pikiran dengan melakukan apa yang disuka. Kita bisa menonton drakor favorit, baca buku buat self reward, atau jalan ke mana gitu asal jangan dulu mikir naskah yang sedang diendapin itu. Tujuannya saat kita membukanya nanti, kita sudah punya insight baru dengan tulisan kita.
Fouettes sendiri kuendapin sekitar sebulan sebelum masuk ke meja editor, selama masa pengendapan aku ikut berbagai jenis kelas menulis untuk meng-upgrade diri.
6. Revisi dan Swasunting
Revisi mandiri adalah proses paling krusial dan biasanya akan sangat ... hm, susah sekali diungkapkan dengan kata-kata. Proses ini membutuhkan kejelian, ketelitian, kesabaran, dan pengetahuan. Yups, di sinilah kemampuan menulis kita dipertanyakan. Saat revisi penulis dipaksa menajamkan seluruh panca indera untuk meraba, merasakan di mana letak kekurangan naskah dan berupaya memperbaikinya.
Revisi sendiri secara garis besar ada revisi makro yaitu revisi bagian krusial terkait isi cerita, unsur kelengkapan cerita, mendeteksi plothole dll. Setelah revisi substansi dilewati, akan ada revisi struktural/editing mekanik di mana kita harus memperhatikan pola kalimat, sintaksis, tanda baca, konjungsi dll. Terakhir copy editing sampai zero mistake.
Aku menyelesaikan naskah Fouettes dua minggu lamanya masa swasunting ini, sebelum akhirnya masuk tahap editing bersama editor kesayangan bernama Kak Andi Arny Purnama Sari.
7. Mengirimkan ke Penerbit

No comments:
Post a Comment