Blog Archive

Thursday, 27 February 2025

Trend Konyol Literasi: Book Shaming-Tanpa Sadar, Kita Sering Melakukannya!


Trend Konyol Dunia Literasi: Book Shaming – Tanpa Sadar Kita Sering Melakukannya

Pernah nggak Sobat Ahya ngerasa minder saat menyebut buku favoritmu? Entah itu karena rasa takut dianggap tidak berkualitas atau ... justru kamu sendiri pernah memandang sebelah mata seseorang karena jenis bacaan mereka? Jika iya, kamu mungkin pernah bersinggungan dengan fenomena yang disebut book shaming.

Memangnya, apa sih book shaming itu?

Simpelnya, book shaming mempermalukan seseorang karena jenis buku yang dibacanya baik dengan merendahkan seleranya, melabeli dengan berkomentar seenaknya, bahkan menghakimi buku-buku yang dibacanya. Sayangnya, fenomena ini justru marak terjadi di kalangan pegiat literasi loh, kayak komunitas baca, kumpulan penulis, book reviewer. Kadang kala kita nggak sadar komentar kita termasuk book shaming. Ironis bukan? Di dunia di mana perkumpulan itu merupakan wadah merayakan kebebasan membaca, malah ada oknum yang mempermasalahkan bacaan orang lain.

Untuk lebih jelasnya, yuk bahas lebih dalam lagi dalam segmen serba-serbi literasi kali ini.

"Serius kamu suka baca komik di usia sekarang? Nggak cocok tahu."

Kalian pernah mendengar kalimat itu? Aku pernah. Bahkan seseorang dari keluargaku menegurku gara-gara komik yang sedang kubaca di usia 22 tahun. Hal itu melukai egoku, malu, dan nggak berani lagi membaca komik untuk waktu yang lama. Selain itu juga aku membaca postingan X beberapa waktu lalu yang menggegerkan jagad dunia maya. Kurang lebih begini: 

"Generasi Gen Z yang membaca Tereliye dan Fiersa tidak mengenal Pramoedya Ananta Noer."

Tentu saja respons dari tulisan itu beragam dan menimbulkan kerusuhan. Membandingkan buku yang dibaca, menghakimi genre bacaan, tidak menunjukkan kamu memiliki nilai lebih. Justru menunjukkan betapa sempit dan kakunya pola pikir seperti itu. Contoh lain yang lebih familier:

"Baca nonfiksi atuh biar pinter." 

Sering banget kan lihat anak sekolah baca novel ditegur seperti ini? Pengulas buku dikritik seperti ini. Faktanya, kita membaca buku sesuai dengan kebutuhan. Beberapa orang yang membutuhkan bacaan ringan akan lari mencari fiksi kontemporer, teenfict bahkan komik. Sementara mereka yang membutuhkan data, analisis, dan bacaan berat mungkin akan mencari buku-buku sastra, filsafat atau semacamnya.

Lantas, mengapa book shaming bisa terjadi?

Seperti fenomena shaming lainnya, body shaming, mommy shaming, fenomena itu muncul dari asumsi seseorang yang beranggapan bahwa sesuatu harus memenuhi standar tertentu. Book shaming bisa muncul karena beberapa alasan diantaranya:
  1. Merasa Lebih Superior
    Mereka merasa selera bacaan mereka dianggap lebih berkualitas dan pintar daripada buku yang lebih ringan dan populer.
  2. Kurang Paham Tentang Genre
    Mereka menganggap buku ya sama aja buku! Mereka belum paham setiap jenis buku membawa nilai dan tujuan yang berbeda.
  3. Tekanan Media Sosial
    Banyak yang berekspektasi tinggi terkait buku tertentu. Buku-buku apa yang layak dan pantas dibaca, diulas, dan direkomendasikan. Menganggap buku-buku tertentu lebih prestisius. Keberadaan sosial media membuat book shaming lebih mudah terjadi dengan adanya bebas berkomentar di postingan ulasan buku. Tanpa sadar menyebar opini pribadi yang membuat orang lain tidak dihargai dan merasa rendah.
Sekilas, book shaming ini hal yang biasa semacam lelucon. Namun, dampaknya cukup serius.

Book Shaming dan Dampaknya bagi Pembaca

  1. Membuat Orang Malu Membaca:

    • Banyak orang jadi ragu untuk menunjukkan buku yang mereka baca, bahkan bisa kehilangan minat membaca karena takut dihakimi.

  2. Menyempitkan Ruang Literasi:

    • Komunitas literasi seharusnya inklusif dan mendukung semua jenis pembaca. Tapi dengan adanya book shaming, ruang ini jadi eksklusif dan tidak ramah.

  3. Menghambat Kebebasan Berekspresi:

    • Setiap orang punya hak untuk membaca apa yang mereka suka. Book shaming bisa menghilangkan kebebasan ini dengan menanamkan rasa takut akan penghakiman.

  4. Menciptakan Lingkungan yang Tidak Sehat:

    • Dalam komunitas literasi, book shaming bisa menimbulkan perpecahan dan persaingan yang tidak sehat. Padahal, tujuan utama membaca adalah menikmati dan belajar, bukan berkompetisi.

Bagaimana Menghindari Book Shaming?

Mengingat dampak yang terjadi sebegitu mengerikan, penting untuk mulai menghindari kebiasaan book shaming. Mungkin, beberapa cara ini perlu dicoba secara bertahap:

  1. Menghargai Pilihan Orang Lain:

    • Ingat, setiap orang punya preferensi masing-masing. Buku yang menurutmu kurang menarik bisa jadi sangat berarti bagi orang lain.

  2. Pahami Fungsi Setiap Buku:

    • Tidak semua buku harus berat dan intelektual. Ada buku yang ditulis untuk hiburan, motivasi, atau sekadar pelarian dari rutinitas. Semua itu sah-sah saja.

  3. Jangan Memberi Label Negatif:

    • Hindari melabeli buku atau genre tertentu dengan stereotip. Setiap buku punya nilai uniknya sendiri.

  4. Fokus Pada Hal Positif:

    • Alih-alih mengkritik buku yang tidak kamu suka, coba beri apresiasi pada usaha seseorang untuk membaca, terlepas dari jenis bukunya.

  5. Jadilah Pendukung, Bukan Hakim:

    • Sebagai pembaca, tugas kita adalah mendukung sesama untuk terus membaca, bukan menghakimi pilihan mereka.

Serunya Merayakan Keberagaman dalam Membaca

Dunia literasi tak selebar daun kelor, ada banyak buku untuk banyak pembaca. Setiap buku memiliki pembacanya sendiri dan setiap buku akan bermanfaat bagi pembacanya masing-masing. Daripada terjebak dalam lingkaran book shaming, yuk, putus mata rantai itu dengan fokus pada pertumbuhan diri sendiri. Nikmati keragaman yang ada.

Bung Hatta pernah berkata,  
"Aku rela dipenjara asalkan bersama dengan buku, karena dengan buku aku bebas."

Beliau dengan berani mengatakan bahwa dia merdeka hanya dengan membaca. Loh, kok kita yang sudah maju teknologinya masih senewen dengan kemerdekaan orang lain? Ya, nggak sih!

Kalau kamu suka postingan kayak begini, aku suka membahasnya di page aku, yuk follow untuk lebih update lagi~

Jangan lupa baca juga:

Ingin Membaca Buku, Tetapi Tidak Memiliki Buku

5 Alasan Mengapa AhyaBee Menulis Fiksi, Poin Terakhir Membuatmu Tak Habis Pikir

 

Saturday, 22 February 2025

Review Buku: Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Inginkan Karya Jeong Seungwan

Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan – Jeong Seunghwan

Pernah nggak sih Sobat Ahya merasa berada di persimpangan hidup, bingung gitu menentukan arah, atau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan? Semua seakan terlihat sangat rumit. Jika iya, maka buku Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan karya Jeong Seunghwan adalah teman yang tepat untuk menemanimu saat ini dalam perjalanan mencari jawaban atas berbagai kegelisahan hidup.

Buku ini bukan sekadar kumpulan kata-kata, tetapi seperti cermin besar yang memantulkan bayangan diri kita sendiri. Sebuah buku yang mengajak pembacanya untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali memahami emosi, hubungan, serta tujuan hidup.







Apa yang Membuat Buku Ini Berbeda?

Salah satu hal yang membuat buku ini begitu istimewa adalah cara penyampaiannya. Buku ini dipenuhi dengan kumpulan kutipan, puisi, serta refleksi yang berasal dari pengalaman pribadi penulis dan buku-buku lain yang memengaruhinya. Setiap halaman terasa seperti percakapan mendalam antara penulis dan pembaca—santai, jujur, tetapi penuh makna.

Ketika membacanya, aku merasa seperti dipeluk oleh kata-kata. Ada semacam penghiburan yang menyusup ke hati saat kita dihadapkan pada kalimat-kalimat yang seolah memahami apa yang sedang kita rasakan. Misalnya, saat sedang merasa kehilangan arah, kalimat pada halaman 227 ini benar-benar menyentuh:

“Kita tidak hidup secara kebetulan, ingat itu.”

Kalimat ini sederhana, tetapi begitu mendalam. Rasanya seperti sebuah pengingat bahwa meskipun hidup terasa berat dan membingungkan, setiap kejadian punya makna.

Struktur Buku yang Menggugah

Buku ini dibagi menjadi empat bagian besar, masing-masing mengangkat fase-fase penting dalam kehidupan. Dari setiap babnya, kita diajak untuk memahami berbagai aspek kehidupan, seperti emosi, hubungan dengan orang lain, hingga tujuan hidup.

Meski buku ini tergolong dalam genre self-help, jangan berharap menemukan solusi instan untuk masalahmu di sini. Sebaliknya, buku ini mengasah kemampuanmu untuk memahami perasaan, menelaah masalah, dan melihat hidup dari sudut pandang yang lebih jernih.

Beberapa poin menarik dari setiap bagian:

  1. Fase Kehidupan dan Gejolak Emosi
    Di bagian ini, penulis menggambarkan bagaimana setiap orang pasti pernah menghadapi titik terendah dalam hidupnya. Penulis dengan lembut mengingatkan bahwa perasaan negatif seperti kesepian, keraguan, dan ketakutan adalah bagian dari perjalanan hidup. ketika kita berada di fase ini, coba untuk terima, jangan sekali-kali merasa emosi seperti ini adalah kesalahan. Ini manusiawi banget. 

  2. Hubungan dengan Orang Lain
    Bab ini berbicara tentang pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar kita. Ada banyak refleksi tentang bagaimana kita sering kali lupa memprioritaskan diri sendiri dalam hubungan, dan betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima.

  3. Mengeksplorasi Diri
    Bagian ini mengajak pembaca untuk lebih berani menghadapi perasaan dan keinginan terdalamnya. Bukan hal yang mudah, tetapi proses ini sangat diperlukan untuk menemukan jati diri.

  4. Tujuan Hidup
    Bab terakhir menjadi penutup yang manis. Penulis memberikan perspektif bahwa setiap orang memiliki tujuan unik dalam hidupnya, dan proses menemukannya adalah perjalanan yang patut dihargai.

Kekuatan Utama Buku Ini

1. Gaya Bahasa yang Personal
Bahasa yang digunakan Jeong Seunghwan terasa hangat dan tidak menggurui. Setiap kalimat seperti suara teman lama yang dengan sabar mendengarkan keluh kesah kita. Ini yang membuat buku ini sangat relatable, terutama bagi remaja atau dewasa muda yang sedang mencari arah hidup.

2. Kaya dengan Kutipan Inspiratif
Sebagian besar isi buku ini adalah kumpulan kutipan dari buku-buku populer yang pernah dibaca penulis. Kutipan-kutipan ini memberikan perspektif baru sekaligus memperkaya pembaca dengan referensi bacaan lain yang mungkin belum pernah mereka dengar.

3. Refleksi yang Mendalam
Buku ini tidak hanya menyajikan kalimat-kalimat indah, tetapi juga membantu pembaca untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaan mereka sendiri. Bacaan seperti ini sangat cocok untuk siapa saja yang ingin lebih memahami diri mereka.

Hal yang Kurang Nyaman

Meski aku menikmati proses membaca buku ini, ada beberapa bagian yang menurutku kurang pas. Salah satunya adalah kutipan puisi-puisi panjang yang kadang terasa tidak relevan dengan pembahasan. Beberapa di antaranya terasa sedikit dipaksakan, sehingga membuat alur refleksi yang sudah mengalir jadi agak tersendat. Namun, hal ini bukan berarti buku ini tidak layak dibaca. Secara keseluruhan, pengalaman membacanya tetap memberikan banyak pelajaran dan inspirasi yang berharga.

Siapa yang Harus Membaca Buku Ini?

Buku ini cocok untuk siapa saja yang sedang merasa kehilangan arah atau sekadar ingin berhenti sejenak untuk merenungi hidup. Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk:

  • Remaja atau dewasa muda yang sering merasa bingung dengan masa depan.
  • Pecinta buku self-help yang mencari bacaan dengan gaya personal dan relatable.
  • Siapa pun yang sedang melalui masa-masa sulit dan membutuhkan penghiburan.

Buku ini adalah pelukan hangat dalam bentuk kata-kata. Saat kamu membacanya, kamu akan merasa ditemani dalam setiap emosi yang kamu rasakan.

Kutipan Favorit

Buku ini penuh dengan kalimat-kalimat inspiratif, tetapi salah satu kutipan yang paling berkesan bagiku adalah:

“Kita tidak hidup secara kebetulan, ingat itu.”

Kalimat ini seperti alarm pengingat bahwa setiap momen, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, punya tujuan. Bagi siapa pun yang sedang merasa putus asa, membaca kalimat ini rasanya seperti sebuah pelukan yang berkata, “Kamu nggak sendirian. Semua ini ada maknanya.”

Kesimpulan: Bacaan yang Menginspirasi dan Menenangkan

Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan adalah buku yang akan membuatmu merenung, merasa dipahami, sekaligus termotivasi. Meski ada bagian yang terasa kurang relevan, secara keseluruhan buku ini memberikan pengalaman membaca yang menyentuh hati.

Jika kamu sedang merasa bingung dengan hidup, buku ini bisa menjadi teman yang menemanimu mencari jalan keluar. Jeong Seunghwan dengan lembut mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, dan itu adalah hal yang patut dirayakan.

Jadi, jika kamu mencari bacaan yang penuh makna dan cocok untuk menemanimu di tengah kebingungan, aku sangat merekomendasikan buku ini. Siapkan secangkir teh hangat, duduk santai, dan biarkan buku ini menemanimu dalam refleksi yang mendalam.

Identitas Buku:

  • Judul: Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan
  • Penulis: Jeong Seunghwan
  • Halaman: 282
  • Bahasa: Indonesia
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • ISBN: 9786020656
  • Tanggal Terbit: 1 Januari 2021

Selamat membaca, dan semoga buku ini membantumu menemukan kedamaian yang kamu cari! 😊

Jangan lupa, baca juga: Menyelami Batas Jiwa dalam Pertukaran Tak Terduga: Switch Karya Jili Nai

Tuesday, 18 February 2025

Babat Habis Writer's Block: 10 Strategi Supaya Nggak Kehabisan Ide Saat Menulis!

Strategi Supaya Kamu Nggak Kehabisan Ide Saat Menulis


image:/bing.com

Hei, Sobat Ahya! Pernah nggak sih, duduk di depan buku catatan atau laptop, siap menulis, tapi tiba-tiba pikiranmu kosong? Kamu udah niat banget mau bikin cerita atau artikel keren, tapi ide malah nggak muncul-muncul, buntu, dan rasa pengen banget jedotin aja kepalanya ke meja saat itu juga. Kalau iya, santai aja karena kamu nggak sendiri kok. Hampir semua penulis—baik pemula maupun yang sudah profesional—pernah mengalami hal semacam ini. Fenomena ini dikenal sebagai writer's block atau kebuntuan ide.

Jadi, gimana caranya biar ide nggak mandek? Yuk, aku kasih beberapa tips supaya kamu tetap bisa menulis tanpa kehabisan inspirasi. Nggak susah kok, dan aku yakin kamu pasti bisa mencobanya!

1. Banyak-Banyak Baca Buku (Beneran, Deh!)


Aku tahu, kamu pasti sering dengar kalau membaca itu penting. Tapi beneran, ini salah satu cara paling ampuh buat ngisi otakmu dengan ide-ide baru. Buku itu seperti pintu ke dunia lain. Setiap cerita yang kamu baca bisa jadi inspirasi buat tulisanmu sendiri.Kamu bisa memulai dengan memilih buku yang kamu suka. Kalau kamu suka thriller, coba baca Keigo Higashino, Ruth Ware. Kalau suka horor, baca cerita-cerita Stephen King. Genre komedi bisa baca buku karya Radtya Dika. Genre Young Adult ada karya-karya Akaigita.

Ketika membaca, coba perhatikan alur ceritanya, gimana karakter dibangun, atau konflik apa yang bikin cerita itu menarik. Perhatikan semua unsur intrinstik, ekstrinsik, bedah dan gali ilmunya. Hal yang nggak disangka-sangka, kadang-kadang, hanya dengan baca satu paragraf aja bisa bikin kamu punya ide buat cerita baru. Ada yang pernah mengalami hal seperti itu?

2. Punya "Notebook Ajaib" Buat Catat Ide

Nggak ada ide yang terlalu kecil atau nggak penting buat dicatat. Kalau aku, selalu punya buku catatan atau aplikasi di HP buat nulis ide-ide yang tiba-tiba muncul. Percaya deh, ini bakal bantu banget saat kamu buntu. gampang kok, kamu hanya perlu mencatat apa pun yang terlintas di kepala, bahkan kalau idenya cuma satu kalimat.

Misalnya, “Gimana kalau ada kucing yang bisa ngomong?” atau “Cerita tentang anak sekolah yang nyasar ke dimensi lain.”

Saat kamu butuh inspirasi, tinggal buka catatan itu lagi, dan voila! Kamu punya banyak bahan buat dikembangkan.

3. Coba Teknik Brainstorming (Santai Saja)

Kalau otakmu lagi stuck, jangan langsung panik. Coba duduk santai, ambil kertas, dan mulai tulis apa aja yang ada di pikiranmu. Ini namanya brainstorming, dan ini salah satu cara favoritku buat nyari ide.

Langkahnya kayak gini:

  • Tulis satu topik besar, misalnya “liburan.”
  • Dari situ, tulis semua hal yang berhubungan, kayak “pantai,” “jalan-jalan naik kereta,” atau “hujan waktu liburan.”

Kadang, ide terbaik muncul dari hal-hal yang awalnya kelihatan sederhana.

4. Cari Inspirasi dari Sekitarmu

Kamu pernah nggak, cuma duduk di taman atau kafe, lalu ngeliatin orang-orang di sekitarmu? Kalau belum, coba deh! Kadang, ide cerita bisa muncul dari hal-hal kecil yang kamu amati.

Ini tipsnya:

  • Misalnya, kamu lihat seseorang di taman lagi duduk sendirian. Kenapa dia sendirian? Apa yang dia pikirkan?
  • Atau kamu dengar percakapan lucu di warung kopi. Bisa banget itu jadi dialog di ceritamu.

Lingkungan sekitar itu sumber inspirasi yang nggak ada habisnya, asal kamu jeli melihatnya.

5. Ngobrol Sama Teman yang Juga Suka Nulis

Percaya nggak, ngobrol itu bisa jadi cara seru buat nyari ide? Apalagi kalau kamu ngobrol sama teman yang juga suka menulis. Kamu bisa saling tukar cerita, saling kasih masukan, atau bahkan bikin proyek bareng.

Yang bisa kamu coba:

  • Ajak temanmu brainstorming bareng. Misalnya, kamu punya ide setengah matang, dan temanmu bisa bantu kasih sudut pandang baru.
  • Gabung ke komunitas penulis remaja. Banyak banget komunitas online di Instagram atau Discord yang seru buat saling sharing ide.

Kadang, ide-ide terbaik muncul dari diskusi santai kayak gini.

6. Tonton Film atau Dengerin Musik Favoritmu

Kalau lagi mentok banget, aku biasanya ambil jeda sebentar buat nonton film atau dengerin musik. Serius, ini bisa banget bikin pikiranmu rileks dan ide-ide baru muncul.

Caranya:

  • Pilih film atau lagu yang sesuai sama suasana hati. Lagi sedih? Coba dengerin lagu mellow. Lagi semangat? Pilih lagu upbeat!
  • Tantangan buatmu: coba bikin cerita berdasarkan lirik lagu favoritmu. Misalnya, lirik “City of Stars” dari La La Land bisa banget jadi inspirasi buat cerita romansa.

Kadang, ide muncul dari hal-hal kecil yang kamu nikmati.

7. Biasakan Menulis Rutin (Walau Cuma Sedikit)


Kadang, alasan kamu nggak punya ide itu simpel: kamu jarang menulis. Kalau kamu mulai membiasakan diri buat nulis rutin, otakmu akan lebih mudah "terlatih" buat menemukan ide baru. Jujur ini hal yang paling sulit kupertahanin. Meski begitu, ini adalah hal yang kulakukan:

  • Menetapkan waktu tertentu buat nulis setiap hari, meskipun cuma 15 menit. Biasanya aku pagi menjelang siang ketika semua pekerjaan domestik sudah beres.
  • Jangan khawatir soal bagus atau nggaknya tulisanmu. Yang penting kamu mulai dulu. Ini juga aku masih belajar. Kadang sering kali insecure dan overthinking bikin mandeg dalam segala hal.

Semakin sering kamu menulis, semakin mudah ide itu mengalir dengan sendirinya.

8. Eksplorasi Genre Baru

Kalau kamu mulai merasa bosan dengan genre yang biasa kamu tulis, coba sesuatu yang baru. Ini bisa jadi pengalaman seru sekaligus cara untuk memperluas kreativitasmu.

Misalnya:

  • Kalau biasanya kamu nulis cerita fantasi, coba bikin cerita horor atau misteri.
  • Kalau kamu suka puisi, coba tulis cerita pendek (flash fiction).

Eksperimen kayak gini nggak cuma bikin kamu lebih kreatif, tapi juga bikin pengalaman menulismu makin kaya.

9. Gunakan Writing Prompts

Writing prompts itu semacam tantangan menulis kecil. Biasanya berupa kalimat pembuka, pertanyaan, atau ide acak yang bisa kamu kembangkan jadi cerita.

Coba ini:

  • Cari writing prompts di Google. Banyak banget yang gratis, lho!
  • Tantang dirimu buat menulis cerita dari satu prompt setiap minggu.

Latihan ini bikin otakmu tetap aktif dan ide-ide segar terus muncul.

10. Jangan Takut dengan Writer's Block

Writer's block itu hal yang wajar banget, dan semua penulis pasti pernah mengalaminya. Jadi, jangan panik kalau ide terasa mentok. Kadang, yang kamu butuhkan cuma waktu istirahat buat menyegarkan pikiran.

Apa yang bisa kamu lakukan?

  • Ambil jeda sejenak. Jalan-jalan, dengerin musik, atau bikin kopi favoritmu.
  • Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Writer's block itu cuma sementara, kok.

Yang penting, jangan menyerah. Teruslah mencoba, dan ide-ide pasti akan datang lagi.

Ayo Mulai Menulis!

Menulis itu nggak harus selalu sempurna. Yang penting adalah kamu menikmati prosesnya. Kalau kamu mencoba beberapa tips di atas, aku yakin kamu nggak akan kehabisan ide lagi.

Sekarang, coba deh ambil kertas dan pena, atau buka laptopmu. Tulis apa pun yang terlintas di pikiranmu. Nggak harus panjang, nggak harus sempurna. Yang penting kamu mulai. Selamat menulis, ya! Siapa tahu, tulisanmu bisa menginspirasi orang lain. 😊


Thursday, 13 February 2025

Bingung Mau Baca Buku Apa? 4 Tips Ini Akan Membantu Kamu!



Kata orang, membaca itu membosankan, bikin ngantuk, dan ya ... buang-buang waktu. Mungkin buat sebagian orang membaca bukanlah sebuah kebutuhan. Namun, tidak bagi pegiat literasi dan bookslover yang menjadikan kegiatan membaca adalah seperti napas dalam hidup mereka. Ketika membaca, mereka akan hanyut dan berkelana dengan berimajinasi.

Awal aku membaca, seorang mentor nulisku menyarankan aku membaca sebuah buku fiksi. Awalnya genre favorit sejuta umat, romance. Namun, aku nggak bisa menyelesaikannya. Kemudian beliau menyarankan aku beberapa genre yang berbeda. Akhirnya, aku memilih judul thriller. Aku melahapnya dalam waktu yang singkat. Perkembangan membacaku pun melejit pesat dari yang cuma empat lembar sehari sampai pernah tiga buku dalam sehari. Yuk, merapat biar kubocorkan tipsnya!

Panduan Memilih Buku Sesuai Kepribadianmu

Membaca bisa jadi cara yang seru untuk mengisi waktu luang. Selain segudang manfaatnya yang tak bisa dijabarin satu-satu di sini, membaca akan memperbaiki kebiasaan remaja yang seiring dengan perkembangan zaman sangat sibuk dengan gadget dan dunia maya. Di tengah tren digital saat ini, buku bertransformasi dalam bentuk digital juga menyesuaikan dengan perubahan zaman. Meski begitu tidak semua buku bakal cocok untuk kamu. Untuk itu aku akan membagikan pengalaman memilih buku yang cocok dengan kepribadian masing-masing. Bisa jadi ini adalah langkah penting untuk membuat aktivitas membaca kamu semakin seru dan menyenangkan.

Alasan Kenapa Harus Memilih Buku yang Sesuai

Setiap orang punya kepribadian dan minat yang berbeda-beda, begitu juga kamu! Membaca buku yang sesuai dengan kepribadian bisa bikin pengalaman membaca jadi lebih menyenangkan dan bermakna. Selain itu, buku yang tepat bisa jadi sumber inspirasi, teman saat bosan, atau bahkan membantu kamu menemukan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.

Namun, dengan banyaknya genre buku seperti fantasi, romansa, thriller, hingga buku pengembangan diri, memilih yang pas memang nggak mudah. Tapi tenang, panduan ini akan membantumu menemukan buku yang cocok dengan kepribadianmu!

Kenali Diri Sendiri dan Gaya Membaca

Sebelum memilih buku, coba pahami dulu kepribadianmu. Beberapa cara mudah untuk mengenal dirimu adalah:

  1. Refleksi Minat: Apa yang biasanya menarik perhatianmu? Kisah petualangan, romansa, atau topik inspiratif? Memecahkan kasus?
  2. Tes Kepribadian Online: Tes seperti MBTI atau Enneagram bisa membantumu mengetahui tipe kepribadian dan genre yang sesuai.
  3. Pengalaman Membaca Sebelumnya: Ingat-ingat buku atau genre apa yang pernah kamu baca dan paling kamu nikmati.

Pilih Genre Sesuai Kepribadianmu

Setelah mengenal dirimu, saatnya memilih genre yang pas. Berikut beberapa rekomendasi genre berdasarkan tipe kepribadian:

1. Suka Petualangan dan Imajinasi Tinggi

Kalau kamu suka tantangan dan eksplorasi, buku fantasi atau petualangan cocok banget buatmu! Novel seperti Harry Potter karya J.K. Rowling bisa membawa kamu ke dunia baru yang penuh keajaiban.

Kamu juga bisa mencoba genre dystopia seperti The Hunger Games karya Suzanne Collins atau Divergent karya Veronica Roth. Kisah-kisah ini nggak hanya seru, tapi juga bikin kamu berpikir lebih kritis tentang kehidupan.

2. Romantis dan Perasa

Kalau kamu tipe yang baper saat nonton film atau dengar lagu, buku romansa bisa jadi pilihan terbaik. Coba baca Obsessive Girl karya AhyaBee. Collen Hover atau buku-buku Almira Bastari. Untuk yang suka cerita cinta dengan twist, Me Before You karya Jojo Moyes bisa jadi pilihan. Buku ini mengajarkan makna cinta dan pengorbanan yang mendalam.

3. Kritis dan Ingin Tahu Segalanya

Kalau kamu suka merenung dan berpikir mendalam, buku-buku misteri, psikologi, atau filsafat cocok untukmu. The Psychology of Money karya Morgan Housel adalah pilihan tepat untuk memahami pola pikir manusia soal uang. Vermilion Rain karya Kai Elian, Rankaku karya Yandi Asd. Mayfly karya Gusti Riant. Jejak Balak karya Ayu Welirang.

Atau kamu bisa mencoba novel seperti Gone Girl karya Gillian Flynn yang penuh teka-teki dan intrik. Buku ini cocok banget buat kamu yang suka cerita dengan ending tak terduga.

4. Ingin Belajar dan Mengembangkan Diri

Kalau kamu suka belajar hal baru, buku pengembangan diri adalah pilihan yang tepat. Atomic Habits karya James Clear atau Seni Hidup Minimalis dari Francine Jay bisa membantumu meningkatkan kebiasaan sehari-hari.

Buku pengembangan diri ini juga cocok buat kamu yang ingin hidup lebih produktif dan tertata. Jangan lupa catat poin-poin penting saat membaca, ya!

5. Suka Drama dan Emosi Kompleks

Kalau kamu suka cerita yang penuh konflik dan emosi, novel drama seperti As Long as the Lemon Treess Grow karya Khaled Zoulfa Katouh atau It End With Us karya Collen Hover, Voiceless karya Yandi Asd bisa jadi pilihan.

Buku-buku ini biasanya mengeksplorasi isu-isu sosial dan hubungan antar manusia yang mendalam. Cocok buat kamu yang ingin memahami sisi emosional kehidupan.

Tren Membaca Masa Kini

Di era digital, membaca tidak hanya dilakukan melalui buku fisik. Banyak remaja kini beralih ke e-book dan audiobook karena lebih praktis. Beberapa platform populer untuk membaca digital adalah:

  • E-book: Ideal buat kamu yang suka membaca sambil bepergian. Kindle, Gramedia Digital, iPusnas atau Google Books punya banyak pilihan judul yang bisa diakses kapan saja.
  • Audiobook: Cocok buat multitasker yang ingin mendengarkan cerita saat olahraga atau perjalanan. Platform seperti Audible dan Storytel adalah pilihan favorit.

Tips Memilih Buku dengan Bijak

Berikut beberapa tips agar kamu bisa menemukan buku yang tepat dan cepat tanpa perlu membuang waktu:

  1. Cari Rekomendasi: Ikuti akun media sosial atau blog yang sering membahas rekomendasi buku.
  2. Baca Ulasan: Sebelum membeli, baca ulasan di platform seperti Goodreads untuk tahu pendapat pembaca lain.
  3. Coba Genre Baru: Jangan takut mencoba genre yang belum pernah kamu baca. Siapa tahu kamu menemukan favorit baru!
  4. Gunakan Aplikasi Buku: Banyak aplikasi yang menyediakan sinopsis dan ulasan sehingga memudahkan kamu memilih.

Mulai Petualangan Literasimu Sekarang!

Membaca buku yang tepat adalah cara seru untuk mengeksplorasi dunia baru, memahami dirimu sendiri, dan bahkan memperkaya hidupmu. Jadi, mulai sekarang, kenali kepribadianmu dan temukan buku yang sesuai. Jangan lupa bagikan pengalaman membaca kamu di kolom komentar!

Ikuti terus blog ini untuk mendapatkan rekomendasi buku terkini dan tips seru seputar literasi. Selamat membaca, dan nikmati setiap halaman yang kamu buka!

Saturday, 8 February 2025

Resolusi Membaca: Cara Seru Membuat Target Baca Buku, Nomor 5 Ampuh Banget!



image bing.com

Resolusi Membaca 2025: Cara Seru Membuat Target Buku untuk Remaja

Apa kamu salah satu Sobat Ahya yang ingin membaca lebih banyak buku tahun ini? Masalahnya, kadang kita bingung bagaimana caranya. Iya, nggak? Membuat resolusi membaca bisa menjadi cara seru untuk membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca terutama bagi remaja nih yang mulai terkontaminasi teknologi. Membaca menjadi hal yang sangat sulit. Padahal begitu banyak manfaat bisa dipetik ketika kita membaca. Selain menambah wawasan, membaca juga bisa menjadi pelarian stres loh.

Nah, kali ini aku mau share cara membuat target baca ala AhyaBee. Tahun kemarin, aku memang hanya membaca sekitar 75 judul buku dan itu jauh lebih rendah dari yang biasanya kulakukan. Meski begitu, tidak masalah. Karena membaca bukan ajang siapa tercepat atau siapa terbanyak bukan? 

Alasan Membuat Resolusi Membaca Itu Penting

Nggak cuma kamu kok yang bertanya-tanya, “Kenapa harus bikin resolusi membaca? Apa manfaatnya buat aku?” 

Karena aku pun pernah di fase itu. Ada di fase di mana aku mikirnya bakal buang-buang waktu. Daripada begitu mending gas baca aja. Tapi, setelah berdampak banget buat aku dan perkembangan akunku, aku sadar bahwa ada beberapa alasan penting membuat rencana. Dalam hal ini rencana target membaca buku dalam waktu tertentu.

1. Meningkatkan Imajinasi dan Kreativitas


image:/pinterest

Membaca cerita akan menggugah daya imajinasi dan kreativitas otak, terutama untuk genre fantasi, horor, thriller yang memiliki daya pikat luar biasa dari world building, karakternya yang unik, kejadian di luar nalar.

Tanpa sadar, kreativitas kita ikut meningkat saat membaca Harry Potter misalnya maka akan membuka dunia baru di kepala kamu. Imajinasi yang berkembang ini akan membantu kamu berpikir kreatif, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

2. Meningkatkan Keterampilan Menulis

Jika Sobat Ahya bercita-cita menjadi penulis, membaca adalah guru terbaik. Dengan membaca berbagai genre, kamu bisa mempelajari gaya menulis dan memperkaya kosakata.

3. Mengurangi Stres

Setelah lelah dengan tugas sekolah, bekerja, bahkan mengerjakan rutinitas harian, melarikan diri ke dunia buku bisa menjadi cara ampuh untuk menenangkan pikiran. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa membaca selama 30 menit sehari bisa mengurangi stres hingga 68%.

Cara Membuat Resolusi Membaca yang Seru

Untuk pemula, sebaiknya kita fokus pada proses. Supaya resolusi membaca yang kamu rencanakan berhasil, penting untuk membuat target yang realistis dan menyenangkan. Jika bingung memulainya, tips ini bisa kamu coba!

  1. Tentukan Target Buku yang Sesuai dengan Kemampuan
    Ingat, jangan langsung menetapkan target membaca 100 buku dalam setahun jika kamu belum terbiasa. Mulailah dengan 12 buku (1 buku per bulan). Setelah berhasil, kamu bisa menaikkan target di tahun berikutnya. Ini akan memicu semangat kamu dalam membaca.

  2. Gunakan Alat Bantu Digital
    Aplikasi seperti Goodreads atau Bookmory sangat membantu dalam melacak kemajuan membaca. Kamu juga bisa membuat daftar buku yang ingin dibaca, memberikan rating, dan membaca ulasan dari orang lain. Ini bakal memotivasi kamu untuk segera mencapai target membaca tahunan kamu.

  3. Pilih Buku dengan Genre yang Beragam
    Jangan hanya membaca buku dari satu genre saja. Gabungkan buku fiksi dan non-fiksi, novel grafis, atau bahkan puisi. Karena membaca ini adalah proses yang akan memakan waktu dan diharapkan proses ini akan berkelanjutan, variasi bacaan akan membantu kamu menjaga mood baca tetap terjaga.

    • Misalnya, minggu pertama baca Voiceless karya Yandi Asd yang bergenre Young Adult, minggu selanjutnya baca fantasi berjudul Arachne, minggu depannya lagi horor Di Balik Jenela, kemudian novel remaja Behind The Stage dll.
  4. Luangkan Waktu Khusus untuk Membaca
    Ini akan sulit, tapi harus banget cari waktu yang nyaman setiap hari. Misalnya sebelum tidur atau saat istirahat sekolah. Sediakan 20-30 menit untuk membaca tanpa gangguan. Aku pribadi lebih suka membaca sebelum tidur meski sesekali tetep diajak ngobrol sama anak, tapi aku tahu ini momen terbaik yang kupunya.

  5. Ajak Teman untuk Membaca Bersama
    Baca bareng itu seru banget! Bisa ngobrolin banyak hal terkait isinya. Diskusi dan bertukar pikiran setelah membaca bersama itu hal yang aku nantikan.

Rekomendasi Buku untuk Resolusi Membaca 2025

Terakhir, aku akan kasih beberapa lis buku yang bisa kamu baca di tahun 2025.

1. Voiceless karya Yandi Asd

2. Aroma Karsa karya Dee Lestari

3. Tragedi Pedang Keadilan karya Keigo Higashino

4. Margo karya Aghnia Sofyan

5. Laut Bercerita karya L. Chudhori

6. Semua Ikan di Langit karya Ziggy Z

7. Si Cerdas Tak Naik Kelas karya Qomichi

8. Panduan Jalan-jalan Aman bersama Mama Macan karya Kai Elian

9. Educated karya Tara Westover

10. As Long as the Lemon Tress Grow karya Zoulfa Katouh


Membuat resolusi membaca merupakan langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar. Tidak hanya memperluas wawasan, kebiasaan membaca juga bisa membantu menemukan jati diri dan mimpi baru. Jadi, apa resolusi membaca kamu tahun ini? Yuk, mulai petualanganmu bersama buku sekarang juga!


Monday, 3 February 2025

Review Buku Karya Peter Hollins: Jangan Memulai Apa yang Tidak Bisa Kamu Selesaikan

Jangan Memulai Apa yang Tidak Bisa Kamu Selesaikan Karya Peter Hollins


foto buku


Adakah Sobat Ahya di sini yang Tim Gas aja dulu baru mikir kemudian? 

Beberapa orang menilai bahwa memulai sesuatu sering kali terasa lebih mudah. Apalgi pas awal-awal memulai biasanya diiringi ledakan energi yang meluap dan semangat yang sangat membara. Namun, tantangan sesungguhnya ketika project sudah berjalan, kita berusaha untuk tetap konsisten hingga akhir dan mempertahankannya. Menyelesaikan sesuatu yang sudah kita mulai adalah hal yang lebih sulit dan membutuhkan effort besar: keahlian, disiplin, serta tekad yang kuat. 

Dalam buku "Jangan Memulai Apa yang Tidak Bisa Kamu Selesaikan" karya Peter Hollins, dibahas secara mendalam potensi penyebab mengapa suatu kegiatan sering terbengkalai dan cara mengantisipasinya. Yuk, kita bahas!



Buku ini mengupas banyak hal dari sudut pandang yang berbeda dibandingkan buku motivasi lainnya. Jika kebanyakan buku motivasi menekankan pentingnya perencanaan, buku ini justru menyoroti bahaya dari perencanaan yang terlalu detail. Peter Hollins berpendapat bahwa energi kita dapat terkuras habis saat membuat konsep yang terlalu sempurna, sehingga ketika tiba saatnya untuk mengeksekusi, kita sudah kehilangan minat dan semangat. 

Memiliki sebuah gambaran kasar tentang rencana tetap diperlukan, tetapi ada baiknya memberikan ruang untuk improvisasi, bahkan untuk membuat kesalahan.

Fokus pada Tindakan Nyata

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah fokusnya pada tindakan nyata. Peter Hollins mengingatkan bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang cukup hanya dipikirkan. Mimpi harus diwujudkan dalam dunia nyata, bukan sekadar angan-angan di kepala. Dalam setiap proses, konsistensi menjadi kunci, tetapi konsisten tidak tumbuh dan berkembang sendiri. Namun, kita perlu melatihnya dengan membiasakan diri dan membuang semua alasan yang membuat pekerjaan kita tidak selesai.

Beberapa penyebab umum yang membuat seseorang berhenti di tengah jalan, seperti yang dibahas dalam buku ini, termasuk:

  1. Perfeksionisme yang Berlebihan Kita sering kali ingin segala sesuatunya sempurna sebelum memulai. Padahal, sikap ini justru dapat menjadi penghalang. Ketika terlalu fokus pada detail kecil, kita kehilangan momentum untuk melangkah maju. Hollins menekankan bahwa kita harus belajar menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses.

  2. Kebiasaan Menunda-nunda Menunda adalah musuh utama produktivitas. Hollins memberikan beberapa strategi untuk mengatasinya, seperti memecah tugas besar menjadi tugas kecil yang lebih mudah dikelola dan menetapkan tenggat waktu realistis untuk setiap tugas tersebut.

  3. Perjelas Niatnya Niat ibarat pemantik. Semakin jelas niatnya, langkah yang diambil pun semakin pasti. Buku ini mengajak pembaca untuk selalu mengingat "mengapa" di balik setiap tindakan mereka. Dengan niat yang jelas, kita memiliki dorongan lebih besar untuk tetap melangkah meskipun menghadapi rintangan.

  4. Manajemen Waktu yang Buruk Hollins juga membahas pentingnya mengatur waktu dengan baik. Kita semua memiliki waktu dan kesempatan yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Namun, bagaimana kita mengatur dan menggunakannya akan menentukan hasil akhir yang kita capai. Buku ini memberikan tips praktis untuk memaksimalkan waktu, seperti memprioritaskan tugas yang paling penting terlebih dahulu.

Berhenti Mencari Alasan dan Mulai!

Salah satu pesan utama dalam buku ini adalah pentingnya berhenti mencari alasan. Ketika kita beralasan, kita sebenarnya sedang mencoba membenarkan ketidakmampuan kita untuk menyelesaikan sesuatu. Hollins mengajak pembaca untuk jujur pada diri sendiri dan mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan mereka. Alasan seperti "saya tidak punya waktu" atau "saya terlalu lelah" hanyalah bentuk penundaan yang diperhalus.

Hollins juga memberikan langkah-langkah praktis untuk membantu pembaca mengatasi kebiasaan buruk ini, seperti:

  • Membuat daftar alasan yang sering digunakan dan mencari solusi untuk mengatasinya.
  • Mengidentifikasi pola pikir negatif yang sering muncul saat menghadapi tugas yang sulit.
  • Melatih diri untuk fokus pada solusi daripada masalah.

Membiasakan Hal Baik Secara Berkelanjutan

Konsistensi tidak hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga soal membangun kebiasaan baik secara berkelanjutan. Hollins memberikan panduan tentang cara membangun kebiasaan baru yang efektif, mulai dari membuat target kecil yang realistis hingga menciptakan sistem penghargaan untuk diri sendiri. Dengan cara ini, kita dapat menjaga motivasi untuk terus melangkah maju.

Sebagai contoh, jika Anda ingin mulai berolahraga, jangan langsung menargetkan satu jam latihan setiap hari. Coba mulai dari beberapa menit setiap paginya, lalu pelan-pelan tambah durasinya secara bertahap. Fokuslah pada proses, bukan hasil akhir. Seiring waktu, kebiasaan ini akan menjadi bagian dari rutinitas Anda tanpa terasa berat.

"Ditampar Bolak-Balik"

Membaca buku ini sering kali terasa seperti ditampar bolak-balik. Hollins tidak membiarkan pembaca berlindung di balik alasan-alasan mereka. Dia mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan, dan kesempatan untuk mewujudkan sesuatu ada di depan mata. Tinggal kita pilih action sekarang, merampungkannya dengan baik atau tidak memulai sama sekali dan gagal saat itu juga.

Pesan ini sangat relevan bagi siapa saja yang sering merasa tertinggal atau kehilangan arah. Buku ini mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai, selama kita memiliki komitmen untuk menyelesaikannya. Yang penting adalah tindakan, bukan sekadar rencana atau impian.

Memulai Sekarang dan Lanjutkan!

"Jangan Memulai Apa yang Tidak Bisa Kamu Selesaikan" adalah buku yang sangat cocok untuk siapa saja yang ingin meningkatkan produktivitas dan mengatasi kebiasaan buruk yang sering menghambat mereka. Dengan gaya penulisan yang lugas dan langsung ke inti permasalahan, Peter Hollins berhasil menyampaikan pesan-pesan penting yang dapat mengubah cara pandang kita terhadap pekerjaan dan tanggung jawab.

Buku ini bukan hanya tentang motivasi, tetapi juga tentang tindakan nyata. Jika Sobat Ahya merasa sering memulai sesuatu tanpa pernah menyelesaikannya, buku ini bisa menjadi panduan berharga untuk membantu kamu berubah. Karena pada akhirnya, mimpi harus diwujudkan dalam dunia nyata, bukan di dunia mimpi.

Jadi, sudah siap untuk memulai dan menyelesaikan apa yang selama ini tertunda? Jangan tunda lagi. Buku ini mungkin adalah tamparan yang kamu butuhkan untuk akhirnya melangkah maju~




Kalau Sobat Ahya suka konten kayak gini bisa intip akun sosial media aku.

Baca Juga: Portal Menuju Buku Tanpa Batas

Cheers! Celebrate Your Life!


Wednesday, 15 January 2025

Attack on Titan Contoh Golden Fleece? Yuk, Mengenal Golden Fleece dalam Save the Cat!

Mengenal Golden Fleece dalam Save the Cat

Save the Cat pasti nggak asing bagi sebagian besar dari kita, iya kan? Meski begitu aku akan memberi tahu sedikit yang kupelajari karena ini penting dan berguna banget buat kamu yang hobi nulis. Kalau kamu selama ini menulis sekadar nulis aja tanpa memedulikan struktur, kamu wajib tahu metode ini! Salah satu jenis cerita yang pernah ditulis Blake Snyder dalam buku Safve the Cat adalah Golden Fleece. Sebenarnya apa itu?


pinterest


Golden Fleece adalah salah satu dari sepuluh genre cerita yang diidentifikasi Snyder dalam Save the Cat!. Genre ini nggak melulu tentang perjalanan literal, tapi lebih pada perjalanan seorang tokoh menuju pencapaian tujuan tertentu. Tokoh ini nggak hanya mencari sesuatu yang berharga, tapi juga mengalami transformasi pribadi selama perjalanan.

Elemen Utama dalam Golden Fleece

Untuk membangun cerita dengan struktur Golden Fleece, ada beberapa elemen utama yang selalu muncul. Dengan kata lain, ini adalah yang harus ada dalam cerita ketika kamu memutuskan menulis dengan metode ini.

  1. Hero

    Tokoh utama (hero) memiliki misi atau tujuan spesifik. Dia sering kali memulai perjalanan dengan kekurangan tertentu—baik secara emosional maupun karakter—yang menjadi fokus transformasi selama cerita.




    Contoh cerita Golden Fleece di antaranya dalam Lord of The Rings - J.R.R. Tolkien , Frodo Baggins, hobbit biasa yang diberi tugas luar biasa yaitu untuk menghancurkan cincin kekuasaan. 
    Marlin dalam Finding Nemo Marlin, ikan badut yang overprotektif terhadap anaknya, Nemo. Dia melakukan perjalanan untuk mencarinya dan Katniss Everdeen, yang menjadi sukarelawan menggantikan adiknya di ajang Hunger Games.


  2. Road

    Perjalanan adalah elemen kunci. Perjalanan ini bisa berupa perjalanan fisik (seperti bepergian ke tempat tertentu) atau metaforis (proses internal untuk mencapai sesuatu).

  3. Perjalanan panjang menuju Mordor, penuh bahaya seperti serangan orc, godaan cincin, dan pengkhianatan terjadi dalam Lord of The Rings. Sementara dalam Finding Nemo terjadi perjalanan melintasi lautan luas untuk menyelamatkan Nemo dari akuarium. Road dalam Hunger Game Arena penuh ancaman mematikan, dari serangan langsung peserta lain hingga jebakan dari Panem.

  4. Team

    Hero jarang berjalan sendirian. Dia sering ditemani tim yang mendukung, menguji, atau bahkan memperumit perjalanan itu. Setiap anggota tim biasanya membawa dampak unik pada perjalanan hero.

  5. Prize

    Apa yang dikejar tokoh utama? Bisa berupa sesuatu yang nyata, seperti harta karun, atau sesuatu yang abstrak, seperti kedamaian batin. Namun, biasanya
    prize sesungguhnya adalah pelajaran yang didapat dari perjalanan itu sendiri.

Attack on Titan sebagai Contoh Golden Fleece

Attack on Titan (AoT) karya Hajime Isayama merupakan salah satu karya yang dapat dianalisis sebagai contoh dari struktur Golden Fleece dalam metode Save the Cat. Walaupun permukaan ceritanya menonjolkan konflik epik melawan para Titan, perjalanan yang dihadirkan mencakup elemen-elemen utama dalam struktur ini: misi besar, perjalanan fisik dan emosional, transformasi karakter, serta team dynamics.



Elemen Golden Fleece dalam Attack on Titan:

  1. Hero (Eren Yeager)
    Sebagai protagonis, Eren memulai cerita dengan motivasi sederhana: membalas dendam pada Titan setelah melihat ibunya dimakan. Namun, seiring perjalanan, misinya berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, yaitu membebaskan umat manusia dari rasa takut terhadap Titan. Kekurangan utama Eren adalah emosinya yang impulsif dan visinya yang sering kali terlalu fokus pada kebencian, yang menjadi sumber utama transformasinya.



  2. Road (Perjalanan Fisik dan Emosional)
    Elemen "road" dalam AoT sangat jelas melalui perjalanan literal yang dilakukan Eren bersama Survey Corps untuk mengungkap rahasia di balik keberadaan Titan. Mereka melintasi tembok, medan perang, dan bahkan menuju konflik besar yang melibatkan politik dan pengkhianatan. Namun, perjalanan ini tidak hanya bersifat fisik; ia juga berupa perjalanan batin. Eren dan timnya menghadapi tantangan moral yang memaksa mereka mempertanyakan siapa sebenarnya "musuh" dan apa arti kebebasan yang mereka kejar.

  3. Team (Survey Corps)
    Eren tidak pernah berjalan sendirian. Mikasa, Armin, Levi, Hange, dan anggota Survey Corps lainnya membentuk tim yang mendukung (dan kadang memperumit) perjalanan Eren. Setiap anggota tim ini tidak hanya memberikan kekuatan fisik atau taktik, tetapi juga menghadirkan perspektif yang berbeda yang memperkaya pengembangan cerita. Armin, misalnya, sering menjadi suara rasional di tengah impulsivitas Eren, sementara Mikasa mewakili kesetiaan tanpa syarat.




  4. Prize (Kebebasan dan Pemahaman)
    Awalnya, "prize" bagi Eren tampak sederhana: membebaskan umat manusia dari ancaman Titan. Namun, di akhir cerita, tujuan ini berkembang menjadi pemahaman kompleks tentang kebebasan, siklus kebencian, dan pengorbanan. "Prize" sebenarnya adalah transformasi Eren sebagai individu yang menyadari bahwa perjuangannya memiliki konsekuensi jauh melampaui ambisinya sendiri.

Rintangan dan Transformasi Karakter

Cerita AoT dipenuhi rintangan yang relevan dan signifikan. Mulai dari kematian tragis anggota tim, pengkhianatan dari karakter yang mereka percayai, hingga dilema moral tentang siapa yang sebenarnya layak dilindungi. Setiap rintangan ini mendorong perkembangan Eren dan timnya. Mereka dipaksa untuk tumbuh, menghadapi trauma, dan menemukan cara baru untuk mendefinisikan diri mereka di dunia yang penuh ketidakpastian.

Eren, misalnya, memulai cerita sebagai individu yang dipenuhi kebencian dan semangat balas dendam. Namun, seiring waktu, dia berubah menjadi sosok yang memahami harga kebebasan dan akhirnya menerima tanggung jawab atas tindakan-tindakannya, meskipun itu berarti menjadi musuh bagi banyak orang.

Attack on Titan adalah contoh sempurna bagaimana struktur Golden Fleece dapat diterapkan dalam cerita yang kompleks dan epik. Dengan protagonis yang memiliki misi jelas, perjalanan penuh rintangan, dinamika tim yang kuat, dan pencapaian "prize" yang lebih dari sekadar tujuan material, AoT mencerminkan elemen-elemen utama dari genre ini. Transformasi Eren dan rekan-rekannya adalah inti dari cerita, membuktikan bahwa perjalanan sejati bukan hanya tentang melawan musuh eksternal, tetapi juga menghadapi kebenaran tentang diri sendiri dan dunia.

Ini Tipsnya, Yuk, Tulis Ceritanya!

Kalau kamu ingin mencoba menerapkan struktur ini untuk ceritamu, berikut adalah tips yang bisa diikuti:

  1. Tetapkan Tujuan yang Jelas
    Pastikan hero memiliki tujuan spesifik di awal cerita, baik itu eksplisit (seperti menemukan seseorang) atau implisit (seperti mencari jati diri). Ini penting banget untuk mempertajam cerita kamu. 

  2. Buat Rintangan yang Bermakna
    Tantangan yang dihadapi hero harus relevan dengan perjalanan transformasinya, bukan hanya sekadar hiasan cerita. Rintangan harus menggerakan protagonis, terhubung, dan bukan tempelan saja. Ini akan membuat pembaca mudah berempati.

  3. Bangun Tim yang Dinamis
    Karakter pendukung harus memberikan warna unik pada cerita. Mereka bisa membantu atau malah menguji hero, tapi selalu memberikan kontribusi penting terhadap alur cerita. Hati-hati, kesalahannya biasanya kita terlalu fokus sama Hero sehingga side character yang sebenarnya penting kurang mendapat sorotan sehingga hanya sekadar numpang lewat saja.

  4. Tunjukkan Transformasi Hero
    Akhir cerita harus menggambarkan perubahan nyata pada hero—baik secara emosional, mental, atau bahkan spiritual. Ini adalah poin penting yang bisa dipetik para pembaca. jika keempat hal tersebut terpenuhi, Cerita Golden Fleece sering kali mengundang pembaca untuk ikut merenung tentang perjalanan hidup mereka sendiri.

Golden Fleece bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin dan transformasi diri. Struktur ini mengajarkan kita bahwa yang terpenting dalam sebuah cerita bukanlah pencapaian akhirnya, melainkan proses dan pelajaran yang didapatkan sepanjang jalan cerita itu sendiri. Jadi, kalau kamu sedang mencari cara untuk menulis cerita dengan perjalanan penuh makna, coba terapkan struktur ini. Siapa tahu, Golden Fleece versimu akan menjadi kisah yang tak terlupakan!

Karena aku suka banget sama Levi Ackerman, kubonusin pict Levi!



Baca Juga: 
7 Tip Jitu Menulis Buku Pertamaku, Jangan Ragu Mulai Aja Dulu

Rankaku - Yandi Asd


Unggulan

Mengurai Kisah Inspiratif: Menembus Portal Maple Universe Melalui Maple Media

1. Menembus Portal Maple Universe Mundus est plenus magicis et prodigiis, s atu kalimat ini menggambarkan Maple Universe sebagai dunia yang ...

Populer